Senin, 15 Agustus 2011

IPMAK SEBAGAI JATI DIRI ORANG AMUNGME DAN KAMORO

                Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Amungme - Kamoro atau sering disingkat dengan (IPMAK) adalah salah satu Ikatan atau organisasi Mahasiswa yang didirikan oleh Para sesepu dan senior. dimana organisasi ini didirikan bukan karena kepentingan politik atau sekedar mencari popularitas semata, namun organisasi ini berdiri untuk mewadahi semua aspirasi Pelajar dan Mahasiswa Amungme dan Kamoro Khususnya dan Masyarakat Pada umumnya.

Nama IPMAK dipandang sebagai Jati diri anak adat MIMIKA atau Pemilik Hak Kesulungan
  ( Tapare Nutya - Nainat Negel ) sehingga  dipandang dari berbagai perpesktif kemungkinan, sebagai anak adat perlu memperhatikan sebab - akibat  dari pada keputusan yang diambil.
dalam dinamika kehidupan, manusia   selalu dihadapkan pada perubahan. perubahan baik dalam organisasi kemahasiswaan maupun organiasi masyarakat, relatif bagi suatu perubahan namun, kembali pada setiap individu sesuai dengan asesmennya sendiri,, jika perubahan itu penting maka,, diterima , kalau perubahan dipandang negatif maka ditolak.

             Perlu diketahui bahwa IPMAK tidak hannya Mewadahi pelajar dan Mahasiswa Amungme dan Kamoro saja Namun, IPMAK Menghimpun Semua Pelajar dan Mahasiswa yang nota bene Lahir Besar Timika ( LABETI ) pemahaman oknum sekelompok orang yang berpendapat bahwa IPMAK hannya sebagai Organisasi yang berangotakan anak amungme dan kamoro itu merupakan asesmen yang keliru. IPMAK selalu berpandangan luas dan menghimpun serta mengayomi semua yang punya hati untuk membawa perubahan daerah mimika kedepan.

Minggu, 14 Agustus 2011

REHABILITASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA (WTS)


PERAN PEKERJA SOSIAL TERHADAP REHABILITASI SOSIAL BAGI EKS WANITA TUNA SUSILA DI PANTI SOSIAL SILIH ASIH PALIMANAN KABUPATEN CIREBON JAWA BARAT

USULAN PENELITIAN
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mengikuti Seminar Skripsi Jurusan Kesejahteraan Sosial

Disusun Oleh





NAMA     : Fidelis Piligame
NPM         : 41153020060005
Jurusan      : Ilmu Kesejahteraan Sosial



FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
 UNIVERSITAS LANGLANGBUANA BANDUNG
2011

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.                    Latar Belakang

      Salah satu sarana pembangunan nasional adalah pembangunan kesejahteraan sosial, merupakan usaha untuk mengatasi berbagai masalah sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Salah satu masalah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah masalah wanita tuna susila (WTS) diakibatkan oleh berbagai factor, seperti : faktor ekonomi, faktor sosial dan lingkungan, faktor rumah tangga, faktor pendidikan serta faktor psikologis.
       Masalah wanita tuna susila (WTS) merupakan salah satu bentuk masalah sosial, karena tidak sesuai dengan norma-norma susila, norma sosial dan norman hukum yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, praktek wanita tuna susila (WTS) ini merupakan suatu penyimpangan dari masyarakat dalam norma-norma perkawinan yang sudah ada sejak masyarakat mengenal adanya norma-norma perkawinan, sebagai mana yang dinyatakan oleh Soedjono, D (1982:100) sebagai berikut:

Sejak adanya norma-norma perkawinan dalam pergaulan hidup manusia (masyarakat) sejak itu pula ada gejala masyarakat yang dikenal dengan pelacuran sebab penyimpangan dari norma-norma perkawinan yang syah bisa merupakan perzinahan atas pelacuran

             Soedjono, D (1982: 126) juga mengemukakan bahwa akibat negatif dari adanya praktek wanita tuna susila (WTS) ini adalah :
1.      Dapat menimbulkan dan menyebarkan penyakit kulit, kelamin dan sejenisnya
2.      Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga yang wajar
1
3.      Merusak sendi-sendi pendidikan moral, bertentangan dengan norma-norma agama, norma sosial, dan norma hukum
                   Masalah Wanita Tuna Susila (WTS) sekarang ini masih meningkat, baik jumlah maupun penyebarannya dan masih menjadi mata pencaharian yang tidak sesuai dengan sikap hidup masyarakat dalam norma-norma susila, norma agama, norma sosial dan norma hukum.
                   Pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial (DINSOS) bersama masyarakat berusaha untuk mengatasi masalah dimaksud dengan melaksanakan program-program rehabilitasi sosial baik ditujukan kepada para penyandang masalah wanita tuna susila (WTS) itu sendiri maupun kelompok masyarakat yang potensial sebagai sumber permasalahan. Suatu program adalah usaha penyembuhan dan pemulihan para wanita tuna susila (WTS) agar dapat hidup secara wajar dan menjadi anggota masyarakat yang baik, rehablitasi sosial ini dilakukan melalui bimbingan fisik,mental,sosial dan keterampilan sehingga dapat memulai kembali kemampuan-kemampuan dan perasahan sosial serta menyalurkan kembali ke masyarakat dengan disertai pembinaan lanjutan sehingga mereka mampu hidup secara wajar di tengah-tengah masyarakat.
                   Pemerintah dalam hal ini Dinas Sosial (DINSOS) Provinsi Jawa Barat secara fungsional bertanggung jawab untuk menanggani masalah-masalah baik bersifat preventif, represif, maupun kuratif rehablitasi. Panti Sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) “silih asih” Palimanan yang berada di Kabupaten Cirebon dikelola langsung oleh Departemen Sosial (DEPSOS) DT.I Jawa Barat.

2
                   Panti sosial merupakan salah satu bentuk untuk pemberian pelayanan bimbingan terhadap wanita tuna susila (WTS). Agar rehabilitasi mencapai tujuan secara tepat, berdaya guna dan berhasil guna perlu ditempuh kegiatan yang bergerak secara bulat dan sistematika mulai dari studi permasalahan, diagnosa sosial kemudian upaya theorapputik.
                   Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul penelitian: “ Peran pekerja sosial terhadap rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila di panti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat”
1.2.   Identifikasih Masalah
        Berdasarkan latar belakang masalah yang diuraikan diatas, penulis merumuskan
masalah tersebut sebagai berikut:
1.    Bagaimana peran pekerja sosial terhadap rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) di Panti Sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat?
2.    Bagaimana keberfungsian sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) setelah mendapatkan rehabilitasi sosial di Panti Sosial Silih Asih Palimana Kabupaten Cirebon Jawa Barat?
3.    Bagaimana pengaruh rehabilitasi sosial terhadap keberfungsian sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS)  di lingkungan Panti Sosial  Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat?


3
1.3.    Maksud dan Tujuan Penelitian
1.3.1.      Maksud Penelitian
Penelitian ini bermaksud untuk menggambarkan dan menganalisis mengenai peran pekerja sosial terhadap rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila di panti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat
1.3.2.      Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami tentang :
1.      Mengetahui peran pekerja sosial terhadap rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
2.      Mengetahui keberfungsian sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) setelah mendapatkan rehabilitasi sosial dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
3.      Mengetahui pengaruh rehabilitasi sosial terhadap keberfungsian sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
1.3.3. Kegunaan
a.      Kegunaan Praktis
1.      Bagi lembaga sosial Pemerintah atau Swasta, dapat merupakan sumber informasih tentang rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dan bagaimana hasil dari suatu kerja yang diberikan dengan sungguh-sungguh.
2.      Bagi nasyarakat dapat merupakan sumber informasih tentang rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dan bagaimana hasil dari suatu kerja yang diberikan dengan sungguh-sungguh
4
3.      Bagi pengembangan ilmu, diharapkan menjadi bahan acuhan teoritis, terutama dalam pengembangan konsep kesejahteraan sosial dan pelayanan sosial.
b.      Kegunaan Teoritis
           Bagi pengembangan ilmu, diharapkan menjadi bahan acuhan teoritis, terutama dalam pengembangan konsep peran pekerja sosial dan rehabilitasi sosial terhadap wanita tuna susila.
1.4.       Kerangka Pemikiran dan Hipotesis
a.    Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran yang dugunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
       Pekerjaan sosial merupakan suatu metode institusi sosial yang bertujuan untuk membantu orang lain guna: memecahkan permasalahan agar tidak muncul dan agar tidak meluas serta bertambah kambuh, memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh orang lain, memperbaiki kemampuan agar supaya bisa melaksanakan keberfungsian sosial dengan baik, meningkatkan kemampuan keberfungsian sosial agar supaya mampu mengatasi permasalahan dan menghadapi tantangan yang ada, seperti yang dikatakan oleh : Max Siporin yang dikutip oleh Dwi Heru Sukoco
Memberikan pengertian pekerjaan sosial sebagai berikut:
“Pekerjaan sosial adalah sebagai suatu metode institusi sosial untuk membantu orang memecahkan masalah mereka serta untuk memperbaiki dan menigkatkan keberfungsian mereka (1991:4)”


5
              Hal diatas didukung dengan pernyataan Walter A. Friedlander yang dikutip oleh Syarif Muhidin (1992), memberikan pengertian pekerjaan sosial sebagai berikut :
              “Pekerjaan sosial adalah suatu pelayanan professional yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam relasi kemanusiaan yang bertujuan untuk membantu, baik secara perseorangan maupun didalam kelompok untuk mencapai kepuasan dan ketidaktergantungan secara pribadi dan sosial. (Hal.7)”
              Pekerjaan sosial merupakan profesi yang berkecimpung didalam kegiatan pertolongan. Pertolongan tersebut ditujukan kepada individu, kelompok, maupun masyarakat agar mereka dapat meningkatkan kemampuan keberfungsian sosialnya serta  dapat mencapai tujuan hidupnya.
              Berhubungan dengan peningkatan keberfungsian sosial melalui pemberdayaan dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan yang dihadapi oleh eks wanita tuna susila(WTS), maka perlu menetapkan tujuan profesi pekerjaan sosial yaitu:
a.       Meningkatkan kemampuan orang untuk menghadapi tugas-tugas kehidupan dan kemampuan untuk mengatasi masalah yang dihadapinya.
b.      Mengkaitkan orang dengan sistem sumber yang dapat menyediakan sumber-sumber, pelayanan dan kesempatan-kesempatan yang dibutuhkan.
c.       Untuk meningkatkan kemampuan pelaksana sistem tersebut secara efektif dan berperikemanusiaan.


6
d.      Memberikan sumbangan bagi perubahan, perbaikan dan perkembangan kebijakan serta perundang-undangan sosial (Hal.5)
Peran pekerjaan sosial seperti yang dijelaskan dibawah ini:
1.      Pekerjaan sosial berperan sebagai perantara (boker) dalam meningkatkan wanita tuna susila (WTS) dengan sistem sumber yang dapat memberikan pertolongan, seperti lembaga-lembaga yang dapat memberikan pelayanan rehabilitasi sosial
2.      Pekerjaan sosial tidak hanya melakukan proses penyembuhan bagi eks wanita tuna susila (WTS), melainkan dapat bekerja sama dengan disiplin ilmu lain dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya.
3.      Pekerjaan sosial hendaknya mempertimbangkan secara cermat kebijakan-kebijakan dalam memberikan pelayanan. Hal ini perlu karena prosedur yang berbelit-belit serta pelayanan yang kurang tepat akan menghambat eks wanita tuna susila (WTS) dalam memamfaatkan sistem sumber.
            Pekerjaan sosial dalam usaha mencapai tujuan, perlu melaksanakan fungsi-fungsi pekerjaan sosial dalam melaksanakan rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS), fungsi tersebut adalah :
1.      Fungsi Kuratif adalah mengacu pada upaya untuk memperbaiki atau mengatasi faktor-faktor  yang menjadi penyebab wanita tuna susila (WTS)  tidak dapat melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik.

7
2.      Pekerjaan sosial sebagai pembimbing, adalah pekerjaan sosial memberikan bimbingan, arahan dan membantu dalam menentukan kekuatan-kekuatan sumber yang ada dalam rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) serta memberikan alternatif penangganan rehabilitasi tersebut.
3.      Pekerjaan sosial sebagai penghubung, adalah pekerjaan sosial bertindak sebagai penghubung antara kelayan (eks wanita tuna susila) dengan sumber-sumber yang dapat dimanfaatkan untuk membantu memecahkan masalah rehabilitasi sosial tersebut
4.      Pekerjaan sosial sebagai motifator, adalah pekerjaan sosial memberikan motovasi baik kepada eks wanita tuna susila (WTS) itu sendiri maupun kepada keluarganya agar dapat memanfaatkan pelayanan atau sumber-sumber yang ada serta mengoptimalkan berbagai potensi yang ada baik pada diri eks wanita tuna susila (WTS) maupun pada keluarga untuk membantu mengatasi permasalahannya.
              Kegiatan rehabilitasi sosial itu diberikan kepada mereka yang menyandang masalah, agar mereka dapat kembali mempunyai harga diri, percaya diri dan tanggung jawab terhadap masa depan diri sendiri, keluarga, dan masyarat sehingga dapat diterima oleh masyarakat umum,




8
 seperti yang disampaikan oleh YB.Suparlan, 1990: 147:
              “Rehabilitasi sosial adalah kegiatan lembaga yang bertujuan memulihkan kembali rasa harga diri, percaya diri, kecintaan kerja dan kesadaran serta tanggung jawab terhadap masa depan diri sendiri, keluarga maupun masyarakat atau lingkungan sosial”
Dalam hal ini juga, Hudri berpendapat tentang rehabilitasi sosial :
              “Rehabilitasi sosial adalah upaya yang dimaksudkan kembali kepercayaan diri dan harga diri, keluarga, dan masyarakat sekitarnya sehingga memiliki kemauan dan kemampuan untuk melaksanakan fungsi sosialnya (1993: 143)”
            Pelaksanaan rehabilitasi sosial eks wanita tuna susila (WTS) diarahkan pada upaya pemulihan kedudukan dan peran serta sosialnya, terutama melalui bimbingan berbagai jenis keterampilan sesuai dengan kondisi masyarakat yang selalu berubah dan berkembang.
            Pelayanan kesejahteraan sosial adalah usaha kesejahteraan sosial yang mengarah pada terciptanya kondisi sosial sasaran garapan agar memiliki kembali harga diri dan kepercayaan diri sehingga mampu menjalankan fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat melalui usaha-usaha kesejahteraan sosial yang bersifat Represif, rahabilitasi sosial, resosialisasi, dan bantuan sosial (Menteri Sosial.R.I. 1984:14).





9
            Rehabilitasi dipandang sebagai kegiatan-kegiatan yang bersosial ataupun individu agar dapat berfungsi secara saling menguntungkan. Jadi dalam konsepsi yang baru ini perhatian lebih bayak dicurahkan pada proses-proses sosial, yang dengan melalui proses tersebut orang dimotifasi untuk memenuhi tanggungjawab sosialnya, sehingga dapat memperoleh kepuasan pribadi maupun sosial. Melalui proses sosial serupa itulah penyimpangan-penyimpangan sosial diluruskan, ketegangan-ketegangan sosial dan pribadi diatasi, cara-cara baru untuk memahami situasi dan diri sendiri dicapai, dan identitas-identitas sosial serta pribadi yang membahayakan diperbaiki dan dipulihkan.

            Fungsi rehabilitasi atau fungsi penyembuhan dan pemulihan adalah melaksanakan sekumpulan kegiatan yang ditujukan untuk menghilangkan kondisi-kondisi yang berupa ketidakmampuan fisik, emosional dan sosial serta membantu orang yang mengalaminya untuk berfungsi secara normal kembali di masyarakat.
            Keberfungsian sosial mengacuh kepada cara-cara individu atau kolektifitas-kolektifitas bertindak dalam melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka atau kegiatan-kegiatan yang dianggap penting bagi penampilan beberapa peranan sosial yang dianggap seharusnya perlu dilakukan oleh seseorang karena keanggotaannya atau kedudukannya dalam kelompok-kelompok sosial.




10

b.      Hipotesis
            Berdasarkan kerangka pemikiran diatas peneliti mengajukan hipotesis, yaitu : “ jika rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat dilaksnakan dengan baik maka, eks wanita tuna susila (WTS) dapat melaksanakan fungsi sosialnya.”
Gambar

Model Krangka Berfikir Hipotesis
Kesejahteraan Masyarakat
IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PEMERINTAH (DINSOS)


0)








9


1.       Pengorganisasian ( panti sosial )
2.       Penafsiran
3.       Rehablitasi Sosial ( Aplikasi)


















11
1.4.1.      Operasional Variabel
1.      Variabel Bebas : Peran Pekerja sosial meliputi indikatornya :
a.       Melakukan pembinaan mental dan bimbingan sosial, indikatornya:
·         Bimbingan keagamaan
·         Pembinaan budipekerti dan etika
·         Pemberian pendidikan dan pengetahuan umum
b.      Melakukan bimbingan latihan keterampilan kerja, Indikatornya :
·         Pemberian keterampilan kerja ekonomis produktif
·         Bimbingan pengolahan usaha produktif
·         Pemberian modal usaha dan modal kerja
·         Pemberian lanjutan
c.       Memberikan pelayanan pemenuhan kebutuhan hidup, Indikatornya :
·         Pemberian fasilitas perumahan sederhana
·         Pemberian pelayanan kesehatan
2.      Variabel Terikat: rehabilitasi sosial bagi eks wanita tuna susila (WTS) dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat meliputi aspek-aspek :
a.       Kemampuan untuk mandiri, dengan indikatornya :
·         Kemampuan memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari
·         Kemampuan untuk melaksanakan keterampilan kerja


12
b.      Kemampuan dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi, dengan indikatornya :
·         Permasalahan sendiri
·         Permasalahan keluarga
·         Permasalahan dengan anggota masyarakat lain
c.       Kemampuan Beradaptasi dengan indikatornya :
·         Mampu bergaul dengan lingkungan keluarga
·         Mampu bergaul dengan tetangga
·         Mampu mengikuti kegiatan dari masyarakat

1.4.2.       Definisi Operasional
1.      Peranan adalah tindakan yang dilakukan oleh seorang disuatu peristiwa; beliau mempunyai peran besar dalam menggerakkan revolusi. Dalam hal ini peranan menunjukan status dan peran yang dijalankan oleh seseorang dalam sebuah peristiwa atau bidang tugas  yang diembankan kepadanya guna mengerakan dan membuat sebuah perubahan yang diharapkan dalam peristiwa atau kegiatan tersebut
2.      Rehabilitasi sosial adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengembalikan keberfungsian sosial seseorang
3.      Wanita tuna susila (WTS) adalah Seorang wanita yang melacurkan diri atau melakukan hubungan seksual diluar nikah atas dasar imbalan uang

13
4.      Keberfungsian sosial diartikan sebagai kemampuan eks wanita tuna susila (WTS) dalam melaksanakan tugas dalam kehidupan sehari-hari dengan kedudukannya di lingkungan sosial
5.      Panti Sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat adalah Lembaga pemerintah yang memberikan pelayanan Rehabilitasi sosial bagi para eks wanita tuna susila (WTS)
1.4.3.      Metode Penelitian dan Teknik Pengumpulan Data
a.      Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif  Analitis yaitu suatu metode penelitian yang dilakukan untuk meneliti keadaan yang menggambarkan peristiwa yang sedang berlangsung atau sedang terjadi sekarang, dengan cara: mengumpulkan, menyusun data kemudian mengolah dan menganalisis (Surahmad,1998:139)
b.      Sumber dan teknik pengumpulan data
1.      Sumber data
a.       Sumberta data primer, yaitu data yang diperoleh secara langsung (sumber data) melalui studi lapangan atau merupakan sumber utama dalam penelitian
b.      Sumber data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari literature - literatur, dokumen-dokumen, peraturan perundang – undangan, hasil penelitian dan laporan-laporan panti sosial Silih Asih yang relevan dengan objek penelitian atau merupakan sumber penunjang dalam penelitian

14

2.      Teknik Pengumpulan Data
            Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
a.       Wawancara, yaitu mengajukan pertanyaan secara langsung kepada responden penelitian dengan menggunakan daftar Pertanyaan yang telah disusun sebelumnya
b.      Observasi, yaitu mengamati secara langsung setiap kegiatan atau aktivitas yang berlangsung dalam panti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat  dan aktivitas responden penelitian
c.       Studi kepustakaan yaitu mempelajari buku-buku yang dipergunakan sebagai landasan teoritis serta bahan-bahan tertulis lainnya yang berkaitan dengan sasaran penelitian.

1.4.4.       Populasi dan Sampel
a.    Populasi
      Menurut pendapat Arikunto ( 2006:130) Populasi adalah keseluruhan sabjek Penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka, penelitiannya merupakan penelitian populasi. Populasi penelitian ini adalah semua eks wanita tuna susila (WTS) yang ada dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebo Jawa Barat.

15

b.    Sampel
      Berdasarkan populasi yang ada maka, dapat ditentukan sampelnya, yang dimaksud dengan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Arikunto (2006:131) Sampel responden dipilih secara acak yang ditentukan sesuai dengan jumlah responden, dengan syarat-syarat yang ditentukan dalam pengambilan sampel tersebut adalah :
1.      Eks wanita tuna susila Umur 15 – 30 Tahun
2.      Eks wanita tuna susila yang berpendidikan SD – SMP
3.      Eks wanita tuna susila yang berada dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat selama satu tahun
1.5.      Tenik Analisis Data
               Teknik analisis data pada penelitian ini mengunakan pendekatan deskriptif kualitatif  dimana pengelolahan data dilakukan dengan manual, data dikumpulkan dari hasil wawancara dan observasi. Kemudian ditabulasi dalam bentuk frekuensi dan kemudian dianalisis, dimana analisis data dilakukan melalui tahap-tahap sebagai berikut :
1.      Editing, yaitu : memeriksa kembali data yang sudah dihimpun dari kegiatan penelitian yang meliputi kelengkapan data, kebenaran data dan relevansinya dengan ocus penelitian. Tujuannya adalah untuk meneliti kembali apakah data yang diperoleh sudah cukup baik untuk digunakan dalam tahap berikutnya.

16
2.      Klasifikasi data : penggolongan terhadap data yang diperoleh menurut bentuk, kedudukan, kualitas, dan karateristiknya.
3.      Tabulasi, adalah : kegiatan merumuskan data kedalam bentuk tabel atau gerafik, statistik dan sebagainya
4.      Interpretasi, Tujuannya adalah untuk menapsirkan data kedalam bentuk kalimat yang jelas
1.5.1.      Lokasi dan Lama Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini, dilaksanakan dipanti sosial Silih Asih Palimanan Kabupaten Cirebon Jawa Barat.
Adapun jadwal penelitian ini seperti yang diuraikan dalam tabel berikut :
Tebel 1
JADWAL KEGIATAN PENELITIAN
NO
KEGIATAN
                                                                WAKTU PELAKSANAAN ( DALAM BULAN)













2



3



4



5



6



7



8



9





1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Persiapan
































2
Observasi Awal
































3
Bimbingan &

































konsultasi awal
































4
Seminar UP
































5
Pengumpulan data
































6
Pengelolahan data
































7
seminar draf
































8
ujian Skripsi




































17

DAFTAR PUSTAKA

Dwi Heru sukoco. 1991. Pekerjaan sosial. Bandung: sekolah tinggi pekerjaan sosial-STKS

Suharsimi, Arikunto.2006. Prosedur penelitian suatu pendekatan Praktek. Jakarta:rineka cipta

Syarif, Muhidin. 1992. Pengantar Kesejahteraan Sosial. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan sosial – STKS
                             1992. Praktek pekerjaan sosial. Bandung: Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial -STKS.
Sugiyono.1999. Statistik Nonprametrik untuk penelitian. Alfabeta: Bandung.
Soedjono,D. 1982. Praktek wanita tuna susila. Jakarta: pustaka sinar harapan